
KARYA FIRDAUS BIN MUSA

Kini tinggallah kenangan yang akan menjadi sejarah, saat ini kau terbaring menunggu detik-detik terakhir akan di himpit onggokan tanah, dibalut kain putih, mungkin ksu dapat memandangku dengan sebuah senyum tetapi tidak dapat merangkulku.
Sejenak ku berterus terang padamu, andaikan kau masih bias kuajak berbicara, suka dukanya aku waktu bersamamu, rasanya aku tidak pantas kau panggil sahabat, karena dirimu lebih banyak berkorban untukku, kini setelah kau tiada terasa sangat betapa diriku menyesali ucapanku yang telah terlontar padamu, kini aku hanya bias menemanimu untuk sesaat, menemani bersama tangis dan kenangan, biarlah dirimu kini berbaring diatas kaur yang empuk, sambil menunggu malam berganti siang, aku senatiasa menemani tidurmu, hanya saja ketika kupandang tidurmu yang nyenyak, aku berdoa semoga tempat yang akan kau tempuh, akan senyenyak yang ku lihat sekarang, semoga rabbi 'izzati yang keagungannya tidak biasku ukur, berkenan menerimamu sebaik mungkin, dan akupun berusaha mengirimj do'a dan memanfaatkan amal jarryahmu yang masih tersisa, selama aku masih belum menyusulmu, aku akan menata diri, guna perbekalan untuk menghampirimu, saying sekali sahabat andaikan aku bisa berbagi pahala dan amal denganmu agar bermanfaat dan kau merasakan ketenangan, sekalipun aku menyadari bahwa untuk diriku saja belum cukup perbekalan ini demi menebus kemulianmu selama ini terhadap diriku, harapanku tertumpang pada anak yang telah kau lahirkan semoga dia mendoakanmu, dan mengingat pesan-pesan yangt pernah kamu tumpahkan padanya dengan penuh kasih saying dan keikhlasan, selamat jalan sahabat, selamat berjumpa lagi, senyummu semangat aktivitasku
karya firdaus bin musa
karya firdaus bin musa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar